Monthly Archives: Juli 2022

SEJARAH DESA BANTARWARU

SEJARAH DESA BANTARWARU

Sebelum tahun 1928 zaman penjajahan Belanda yang mana penduduk
Indonesia disamping berjuang bela negara juga mencari keselamatan atau
persembunyian diantaranya di daerah waru sebelah timur Ci Pemali
( Jawa; Sungai Pemali ) sebelah barat Hutan Negara lebih tepatnya di lebak
yang ada pohon WARU dan itu sebagai bagian pengingat untuk memudahkan
mana kala masyarakat keluar dari area tersebut, Asal mula penduduk kurang lebih 16 KK hidup berdampingan seiring barjalannya waktu karena bertempat di area dekat Desa Kalinusu Kec. Bumiayu maka di minta oleh pemerintahan Kec. Bumiayu untuk diikutsertakan masuk wilayahnya namun warga tersebut mayoritas menolak dan pindah ke Desa Jipang Kec. Bantarkawung kemudian karena kerusuhan masa itu penduduk pun pindah ke Pulihrejo blok 22 Desa Bantarwaru yang membawa arti Kembali berjaya itu harapannya. Dengan situasi kondisi yang agak aman mereka pindah lagi ke Waringin Blok 20 /Dukuh Bantarwaru sampai sekarang terbangunnya Kantor Pemerintahan Desa Bantarwaru Terbentuknya Desa Bantarwaru pada tahun 1928, di bawah kepemimpinan Ki RAKSA sebagai Kepala Desa/KAYIM yang Pertama.


Dalam pemilihan kepala desa waktu itu dengan cara jembelongan; yang suka menempel/bersentuhan dengan yang ia pilih. Dimasa kepemimpinannya waktu itu masih adanya peperangan dan penculikan kepala desa/kayim salah satunya kepala desa Bantarwaru Ki RAKSA di culik oleh tentara Jepang dan tidak tahu keberadaan
nya sampai sekarang dan akhirnya pada tahun 1931 diadakan pilihan kepala desa
karena masyarakat sangat mengharapkan adanya pimpinan.cara pemilihannya pun sama seperti pemilihan kapala desa yang pertama dan akhirnya terpilihlah Ki Bangsakrama sebagai kepala desa yang kedua sampai tahun 1940’an di masa kepemimpinannya masih masa penjajahan Jepang dan barang siapa kepala desa yang tidak mematuhi perintahnya akan di bawa ke markas/di culik karena Ki Bangsakrama tidak mengikuti perintahnya dan akhirnya melarikan diri entah kemana dan pulang kedesannya sudah tua dan akhirnya meninggal di Bantarwaru. Pada tahun 1940 diadakan pilihan kepala desa dan waktu itu yang terpilih Ki Sukib sebagai kepala desa yang ke-tiga, masa kepemimpinnannya mulai tahun 1940 – 1945 masih di jaman penjajahan Jepang. Pada tahun 1942 mulai adanya klasiran untuk memunculkan petok tanah yang sekarang SPPT. Pada masa penjajahan Jepang banyak masyarakat yang mau di ikutkan kerja paksa ( ROMUSA ) ke kalimantan akan tetapi Ki Sukib tidak mau mendaftarkannnya sehingga kepala desa lah yang sebagai gantinnya dan di bawanya Ki Sukib oleh Jepang sesampai di Stasiun Cikampek Ki Sukib melarikan diri sampai ke Tegal tepatnya di wilyayah Slawi Desa Kalisapu depan POLRES SLAWI, sampai tua baru kembali ke Desa Bantarwaru dan meninggal di makam kan di Bantarwaru Blok 19 (Rambeng dekat ci lesang).
Pada tahun 1945 – 1974 di pimpin oleh Ki Kartawikrama sebagai Kepala Desa yang ke- empat /IV.
Dimasa Pemimpinan Ki Kartawikrama masih pada masa penjajahan Belanda yakni Agresi Belanda yg kedua
yang mana Belanda datang ke Indonesia ikut/mbonceng Tentara NICA dan waktu itu juga adannya gejolak
kerusuhan PKI Madiun. Di tahun 1950 kepala desa di culik karena tidak memetuhi perintahnya akhirnya
kekosongan kepemimpinan dan warga menyebar ke Dukuh Karangbengle, Dukuh Karanganyar dan yang datang
dari luar di suruh ke Dukuh Bangkong sebagai tempat para pendatang baik yang Dari Karang nangka/Banyumas
Kaligua Paguyangan, Banjaranyar Balapulang Tegal sehingga sampai sekarang Dukuh Bangkong 90% asal muasal
pendatang dan berbeda bahasa kebanyakan bahasa yang digunakan kesehariannnya bahasa jawa sedangkan
pedukuhan lainnya menggunakan bahasa sunda.